Luncurkan Buku Biodiversitas, BPI Tegaskan Komitmen Jaga Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan

1 day ago 2

Batang, infojateng.id – PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) meluncurkan Buku Biodiversitas PLTU Jawa Tengah sebagai bentuk transparansi informasi sekaligus penegasan komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kawasan operasional PLTU Batang.

Buku tersebut menjadi dokumentasi ilmiah hasil pemantauan keanekaragaman hayati selama lebih dari satu dekade dan diharapkan menjadi referensi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Peluncuran buku berlangsung di Aula Bupati Batang, Selasa (30/6/2026), dan dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Batang, akademisi, komunitas, organisasi lingkungan, serta perwakilan media.

Chief Operating Officer (COO) PT Bhimasena Power Indonesia, Naofumi Yasuda, mengatakan buku tersebut disusun melalui kolaborasi dengan Kelompok Pecinta Alam Haliaster Departemen Biologi Universitas Diponegoro (Undip) dan diterbitkan oleh Gagas Bisnis. Kajian dilakukan pada enam stasiun pengamatan selama periode 2013–2025.

“Hasil penelitian menunjukkan kawasan operasional PLTU Batang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Ini menjadi bukti bahwa penyediaan energi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Yasuda.

Berdasarkan hasil pemantauan, kawasan tersebut menjadi habitat bagi sedikitnya 465 spesies flora dan fauna, meliputi 204 jenis tumbuhan, 108 jenis burung, termasuk 17 satwa dilindungi dan 16 burung migran dari Australia dan Asia, 80 jenis kupu-kupu, 36 jenis capung, 30 jenis herpetofauna (reptil dan amfibi), serta tujuh jenis mamalia.

Di antara satwa yang tercatat terdapat Gelatik Jawa (Padda oryzivora) yang berstatus terancam punah serta Kepudang Kuduk Hitam (Oriolus chinensis) yang merupakan maskot fauna Provinsi Jawa Tengah.

Yasuda menegaskan, buku biodiversitas bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi perusahaan, melainkan menjadi bentuk akuntabilitas ilmiah atas berbagai upaya konservasi yang telah dilakukan.

Menurutnya, keberhasilan menjaga keseimbangan antara operasional industri dan kelestarian lingkungan tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.

Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengapresiasi peluncuran buku tersebut sebagai bentuk dokumentasi ilmiah yang menunjukkan upaya pelestarian lingkungan di sekitar kawasan pembangkit listrik.

Menurutnya, keberadaan ratusan spesies flora dan fauna yang masih bertahan bahkan berkembang di sekitar kawasan PLTU menjadi bukti penting bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan secara beriringan.

“Dokumentasi biodiversitas ini mencatat ratusan spesies flora dan fauna yang masih bertahan bahkan berkembang di sekitar kawasan PLTU. Ini menjadi dasar penting untuk terus meningkatkan upaya pelestarian lingkungan,” katanya.

Faiz menegaskan pembangunan daerah tidak boleh dihadapkan pada pilihan antara pemenuhan kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan.

“Kita tidak memilih antara listrik dan lingkungan, tetapi kita memilih keduanya,” tegasnya.

Buku biodiversitas tersebut diharapkan menjadi acuan dalam memperkuat pengawasan lingkungan, mendorong inovasi, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem.

Dengan demikian, pembangunan yang dilakukan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus tetap menjaga kelestarian alam.

“Kita ingin mewujudkan kemajuan yang tidak meninggalkan siapa pun dan tidak merusak alam. Batang harus mampu menjadi contoh pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung tantangan perubahan iklim yang saat ini dirasakan hampir di seluruh dunia

“Fenomena suhu ekstrem yang terjadi di berbagai negara menjadi pengingat bahwa seluruh pihak harus semakin serius menjaga keseimbangan lingkungan,” terangnya.

Di sisi lain, lanjut dia, keberadaan PLTU Batang memberikan kontribusi besar terhadap pasokan listrik di Pulau Jawa dan Bali.

Namun demikian, potensi dampak lingkungan seperti emisi, abrasi pantai, kualitas air, hingga pengaruh terhadap aktivitas nelayan dan petani tetap harus dikelola secara berkelanjutan.

Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab melalui langkah-langkah nyata, seperti pemantauan lingkungan secara berkala, rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove, peningkatan pengelolaan limbah, serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang melibatkan masyarakat.

Peluncuran buku tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, organisasi perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Batang, akademisi, komunitas literasi, media, serta organisasi nonpemerintah.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hidayat Ashari, Kepala DLHK Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmika, serta CSR and Community Relation Manager PT Bhimasena Power Indonesia Ahmad Lukman. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |