Kemarau Bikin Sumur Warga Setrokalangan Kering, IJTI Muria Raya Salurkan 20 Ribu Liter Air Bersih

8 hours ago 1

Kudus, infojateng.id – Kemarau panjang membuat sejumlah sumur warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, mulai mengering.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya turut membantu dengan menyalurkan 20 ribu liter air bersih kepada warga, Selasa sore (22/9/2026).

Air disalurkan dengan mengisi sejumlah toren atau tempat penampungan yang telah tersedia di beberapa titik desa. Warga kemudian dapat mengambil air dari lokasi terdekat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Mifthakhudin, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari kegiatan bakti sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak krisis air bersih.

Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di sejumlah wilayah di Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini, bantuan diberikan kepada warga Desa Setrokalangan, Kudus.

“Alhamdulillah untuk hari ini kami dari IJTI Korda Muria Raya kembali melaksanakan kegiatan bakti sosial membagikan air bersih. Sebelumnya kita membagikan di Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini kita di Kabupaten Kudus dengan total membawa 20 ribu liter air,” ujar Iwhan.

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau.

Kegiatan tersebut juga melibatkan PT Pura dan PT Djarum serta menjadi bagian dari momentum memperingati Hari Jadi Kudus ke-477.

“Kegiatan ini kami harapkan bisa sedikit membantu warga masyarakat sehingga mereka bisa memanfaatkan air yang kami bawa. Kami juga berharap kemarau ini tidak berkepanjangan sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Iwhan menjelaskan, penyaluran dilakukan dengan mengisi toren yang tersebar di sejumlah titik desa. Sistem tersebut dinilai lebih memudahkan warga karena mereka dapat mengambil air dari penampungan yang paling dekat.

“Pemerintah daerah sudah menyiapkan penampungan atau toren di beberapa titik. Jadi sistemnya kita mengisi toren-toren yang tersebar di desa ini. Kalau membutuhkan air bersih, warga bisa langsung ke titik-titik toren atau penampungan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Setrokalangan Didik Handono mengatakan kekeringan di wilayahnya semakin meluas seiring belum turunnya hujan. Sumber air warga yang mengandalkan sumur dalam mulai mengering.

“Kondisi kekeringan di desa ini memang belum ada hujan atau kemarau yang panjang. Intinya yang terdampak ini bertambah dari hari ke hari. Itu dikarenakan sumber air warga dari sumur dalam memang sudah tidak ada,” ungkap Didik.

Di Desa Setrokalangan terdapat sekitar 16 titik toren dengan kapasitas bervariasi, mulai 2.000 hingga 5.200 liter. Sebagian besar penampungan memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter.

Kekeringan mulai dirasakan warga sejak awal Agustus. Selain bantuan dari luar, masyarakat kini mengandalkan pasokan air dari pemerintah desa.

“Sebagian warga memang mengandalkan bantuan dari luar dan juga dari pemerintah desa. Pemdes juga berinisiatif akan ada pengeboran sumur dari Polres,” katanya.

Salah seorang warga, Aziz, mengaku telah kesulitan mendapatkan air bersih selama sekitar dua pekan. Sumur warga mulai mengering sehingga pompa air tidak lagi dapat digunakan secara normal.

“Kekurangan sudah ada dua mingguan. Sehari-hari kalau ada sanyo malam, kalau pagi dan sore mati. Jadi sumur-sumur pada kering semua,” ujar Aziz.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Aziz bersama warga lainnya mengambil air dari toren bantuan. Dalam sehari, keluarganya bisa mengambil sekitar 12 ember pada pagi dan sore hari.

“Kebutuhan sehari-hari nunggu bantuan. Alhamdulillah ada bantuan untuk mandi, untuk masak alhamdulillah bisa lancar. Setiap hari sekitar 12 ember, pagi dan sore ambil di toren,” pungkasnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |