Batang, infojateng.id – Calon Jemaah Haji (CJH) di Kabupaten Batang kini tidak perlu repot mendatangi Kantor Imigrasi dan Kemasyarakatan Kelas I Pemalang untuk mengurus paspor.
Kini Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Batang menyediakan layanan pembuatan paspor secara jemput bola melalui layanan Izzi Paspor.
Layanan tersebut merupakan hasil kerja sama Kemenhaj Batang dengan Kantor Imigrasi dan Kemasyarakatan Kelas I Pemalang untuk mendekatkan pelayanan sekaligus memudahkan persiapan keberangkatan ke Tanah Suci.
Kepala Kantor Kemenhaj Batang Siti Mahmudah mengatakan, dari 884 calon jemaah haji yang telah dirilis, sebanyak 664 orang telah melakukan pembuatan paspor melalui layanan tersebut.
“Sementara 220 lainnya karena sebagian sudah ada yang punya paspor dan masih aktif. Ada pula yang menunda, masih di luar kota, bahkan karena telah meninggal dunia,” kata Siti saat ditemui di Kantor Kemenhaj Batang, Selasa (22/9/2026).
Untuk pembuatan paspor, pemohon perlu menyiapkan sejumlah dokumen, di antaranya KTP yang diperbesar 200 persen, kartu keluarga (KK), buku nikah atau ijazah. Selain itu, diperlukan bukti Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) dan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BIPIH).
Siti menjelaskan, seluruh proses administrasi dibantu Kemenhaj bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Pembayaran biaya pembuatan paspor juga dapat dilakukan melalui petugas bank yang disediakan di Kantor Kemenhaj Batang.
“Segala prosesnya telah dibantu oleh Kemenhaj bersama KBIH, sehingga pelayanan terhadap jemaah lebih efektif dan efisien. Yang lebih praktis lagi, jemaah cukup membayar biaya pembuatan paspor di petugas bank yang disiapkan di dalam Kantor Kemenhaj. Besaran biayanya Rp650 ribu untuk masa lima tahun,” jelasnya.
Salah seorang calon jemaah haji, Muhsinin, warga Desa Sengon, Kecamatan Subah, bersama istrinya Listiana, mengapresiasi layanan tersebut. Mereka menilai proses pengurusan menjadi lebih praktis karena tidak perlu bepergian ke Pemalang.
“Seluruh alurnya ada di sini, cukup beberapa menit. Cuma yang agak lama itu waktu ngantrenya. Kalau bisa tolong lebih cepat lagi,” ungkapnya.
Muhsinin dan Listiana dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 2027 setelah menunggu sekitar 13 tahun. Sebagai calon jemaah haji berkebutuhan khusus, Muhsinin mengatakan kondisi tersebut tidak menyurutkan persiapannya untuk menjalankan ibadah.
Ia berharap fasilitas selama berada di Tanah Suci juga memperhatikan kebutuhan jemaah dengan kondisi fisik tertentu.
“Semoga tempat menginapnya juga didekatkan karena kondisi fisik yang tidak sempurna dan biayanya pun lebih efisien dengan tidak mengurangi kualitas layanan selama di Mekah dan Madinah,” ujarnya. (eko/redaksi)

8 hours ago
1
















































