Meski Ada Seragam Gratis, Orderan Penjahit di Batang Tetap Ramai

13 hours ago 2

Batang, infojateng.id – Program seragam sekolah gratis yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang mendapat sambutan positif dari para penjahit rumahan.

Mereka menilai kebijakan tersebut tidak hanya membantu meringankan beban biaya pendidikan bagi orang tua siswa, tetapi juga berpotensi menjadi peluang usaha apabila pelaksanaannya melibatkan lebih banyak penjahit lokal.

Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, aktivitas para penjahit di Kabupaten Batang masih dipenuhi pesanan seragam sekolah dari pelanggan perorangan.

Meski demikian, sebagian besar mengaku belum menerima pesanan yang berkaitan dengan program seragam gratis pemerintah daerah.

Salah seorang penjahit, Pipih Sofia (46), warga Dukuh Legoksari, Kelurahan Proyonanggan Tengah, mengatakan permintaan pembuatan seragam sekolah tahun ini masih cukup tinggi. Selain seragam sekolah, ia juga menerima pesanan pakaian pengantin, bridesmaid, hingga batik.

“Alhamdulillah lumayan. Untuk seragam sekolah sekitar 20 potong. Kalau bahan sudah dipotong semua, sehari bisa menyelesaikan tiga setel,” ujarnya saat ditemui, Selasa (7/7/2026).

Pipih mematok ongkos jahit sekitar Rp125 ribu untuk setiap setel seragam. Meski mengetahui adanya program seragam sekolah gratis yang disebut akan melibatkan penjahit lokal, hingga kini ia belum pernah menerima pesanan dari pemerintah.

“Saya belum dapat. Yang datang tetap pelanggan perorangan seperti biasanya. Harapannya semoga usaha jahit ini selalu ramai,” katanya.

Harapan serupa disampaikan Sriana (53), penjahit asal Dracik, Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang. Menurutnya, musim penerimaan peserta didik baru selalu menjadi periode dengan permintaan jahitan yang meningkat.

Ia mengerjakan pesanan seragam dari berbagai jenjang pendidikan, mulai taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah atas, hingga pondok pesantren.

Bahkan, dari salah satu pondok pesantren ia menerima pesanan sebanyak 82 potong seragam. Secara keseluruhan, jumlah pesanan yang sedang dikerjakannya kini mencapai lebih dari 100 potong.

“Alhamdulillah masih banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ada juga yang terpaksa saya tolak karena tenaga terbatas. Semua saya kerjakan sendiri sambil membantu suami,” ungkapnya.

Untuk menyelesaikan satu setel seragam SMA, Sriana membutuhkan waktu sekitar satu hari. Ongkos jahit yang dipatok bervariasi, mulai Rp35 ribu per setel untuk pesanan borongan taman kanak-kanak hingga Rp100 ribu sampai Rp120 ribu per setel bagi pelanggan perorangan.

Meski orderan pribadi cukup melimpah, Sriana mengaku belum pernah memperoleh informasi maupun pesanan resmi terkait program seragam sekolah gratis dari Pemerintah Kabupaten Batang.

“Saya malah tidak tahu informasinya. Teman-teman penjahit juga sempat bertanya-tanya. Kalau memang penjahit lokal bisa dilibatkan lebih luas, tentu akan menjadi peluang yang bagus bagi usaha kecil,” tuturnya.

Di balik kesibukan menjahit, Sriana memiliki cita-cita mengembangkan usahanya menjadi sebuah konveksi yang mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar.

“Saya ingin punya konveksi sendiri, supaya ibu-ibu di sekitar sini bisa ikut bekerja. Relasi sekolah dan pelanggan sudah banyak, tinggal bagaimana nanti bisa berkembang. Kendalanya memang masih di modal,” ujarnya.

Para penjahit berharap pelaksanaan program seragam sekolah gratis ke depan dapat disosialisasikan secara lebih terbuka dan memberi kesempatan yang lebih luas bagi pelaku UMKM jasa jahit di Kabupaten Batang.

Dengan begitu, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh siswa dan orang tua, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan usaha kecil. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |