PMI Grobogan-IJTI Muria Raya Salurkan 220 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Terdampak Kekeringan

10 hours ago 2

Grobogan, infojateng.id – Memasuki puncak musim kemarau, krisis air bersih mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Palang Merah Indonesia (PMI) Grobogan bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya dan sejumlah mitra menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Dusun Kemiri, Desa Depok, Kecamatan Toroh, Senin (3/8/2026).

Aksi kemanusiaan tersebut digelar dalam rangka memperingati Bulan Jurnalis IJTI ke-28. Bantuan diharapkan dapat meringankan beban warga yang kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau yang meluas.

Petugas PMI Grobogan, Gesit, mengatakan hingga Senin, PMI telah menyalurkan sekitar 220.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 1.430 kepala keluarga.

“Untuk PMI sampai hari ini kami telah mendistribusikan air bersih sebanyak 220.000 liter di beberapa wilayah dan sudah menjangkau 1.430 kepala keluarga. Pada musim kemarau ini kami menargetkan dapat mendistribusikan 1.200.000 liter air bersih sesuai arahan Ketua Umum PMI,” kata Gesit.

Menurut dia, distribusi air bersih telah dilakukan sejak 10 Juli 2026 dan akan terus berlangsung selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.

Sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah antara lain Desa Depok, Kecamatan Toroh; Desa Karangsono dan Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung; serta Desa Asemrudung dan Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer.

PMI Grobogan saat ini mengoperasikan dua armada tangki dengan kemampuan distribusi sekitar 20.000 liter air per hari. Namun, jumlah armada tersebut dinilai belum sebanding dengan luas wilayah terdampak.

“Kami rasa dua armada ini masih kurang mengingat luasnya wilayah terdampak. Pada tahun 2023 saja PMI mendistribusikan air bersih di 18 kecamatan dan 67 desa. Harapan kami armada bisa ditambah agar pelayanan kepada masyarakat lebih maksimal,” ujarnya.

PMI juga meminta pemerintah desa yang mengalami kekeringan menyiapkan tandon atau tampungan air berbahan terpal. Keberadaan tampungan tersebut dinilai dapat mempercepat distribusi sekaligus mengurangi potensi air terbuang.

Sementara Sekretaris IJTI Muria Raya, Nur Soli, mengatakan Grobogan menjadi salah satu daerah yang terdampak musim kemarau dan fenomena El Nino. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 35 desa mengalami krisis air bersih.

“Pada momen Bulan Jurnalis IJTI ke-28 ini kami menggandeng PMI, Bank BKK dan sejumlah instansi lainnya untuk bersama-sama membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Distribusi dilakukan melalui tandon air agar penyaluran lebih maksimal dan tidak banyak air yang terbuang,” kata Nur Soli.

Dia berharap aksi sosial tersebut dapat diikuti lebih banyak pihak. Terlebih, Agustus diperkirakan menjadi salah satu periode puncak musim kemarau sekaligus meningkatnya kebutuhan air bersih.

“Meski bantuan yang diberikan tidak besar, kami berharap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” ujarnya.

Bantuan air bersih menjadi angin segar bagi warga yang selama ini harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tiyem, salah seorang warga Dusun Kemiri, mengaku selama kemarau harus mengeluarkan uang sekitar Rp100 ribu untuk membeli air. Jumlah tersebut biasanya hanya mencukupi kebutuhan sekitar satu minggu.

“Kalau tidak ada bantuan ya beli air. Harganya sekitar Rp100 ribu dan biasanya hanya cukup sekitar satu minggu. Sekarang ada bantuan jadi sementara tidak perlu beli. Sangat membantu karena di rumah memang tidak punya sumur,” kata Tiyem.

PMI Grobogan berharap dukungan dari pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, maupun pihak lainnya terus bertambah sehingga distribusi air bersih dapat menjangkau lebih banyak desa yang terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |