Semarang, infojateng.id – Pendekatan teknokratis dinilai mampu menembus sekat identitas dan menaklukkan tantangan interseksionalitas dalam kontestasi elektoral.
Hal itu mengemuka dalam bedah buku “Politik Teknokratis: Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu” yang digelar Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Diponegoro (Undip), kemarin, di Kampus Tembalang.

Buku tersebut merupakan pengembangan skripsi mahasiswa Muhammad Fikhar A K yang mengulas strategi pemenangan berbasis manajemen politik terukur.
Karya itu dibimbing Dr Phil Wahid Abdulrahman serta diuji Dr Kushandajani dan Jihan Marsya A MA.
Bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber nasional, yakni Lestari Moerdijat, Sugeng Suparwoto, Amelia Anggraini, serta Ketua Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan Undip, Dr Nurhidayat Sardini.
Amelia Anggraini memaparkan pengalamannya dalam Pemilu 2024 di Daerah Pemilihan VII Jawa Tengah.
Ia menyebut kemenangan dengan suara by name tertinggi tidak diraih semata lewat popularitas atau intuisi, melainkan melalui disiplin manajerial, pemetaan yang jelas, target terukur, serta mekanisme kontrol ketat.
“Tantangan interseksionalitas seperti bukan putera daerah, bukan petahana, dan sebagai perempuan, bisa dilalui dengan pendekatan teknokratis yang dipadukan komunikasi politik berbasis kultural,” ujar Amelia.
Pendekatan tersebut, menurut Amelia, menempatkan politik bukan hanya sebagai arena mobilisasi emosi, tetapi juga sebagai kerja perencanaan, pengukuran, dan evaluasi yang sistematis.
Sugeng Suparwoto menilai politik teknokratis merupakan perpaduan antara science dan arts. Dalam konteks sains, proses pemenangan harus dirancang secara terukur dan berbasis data.
Sementara dalam konteks seni, kandidat dituntut mampu membaca budaya serta karakter sosial masyarakat.
“Popularitas dan elektabilitas tidak lahir begitu saja, tetapi dibangun melalui strategi yang terencana sekaligus sensitif terhadap kultur,” katanya.
Sementara itu, Lestari Moerdijat menyoroti tantangan kandidat perempuan yang masih dihadapkan pada stereotip dan hambatan budaya.
Ia mengisahkan pengalaman saat kampanye, ketika masih terdengar seruan bernada bias gender seperti “ojo milih sing wedok”.
“Tantangan tersebut perlu dijawab melalui pendekatan keilmuan sekaligus penguatan kesadaran kolektif bahwa perempuan harus saling mendukung dalam ruang politik,” ungkap Lestari Moerdijat.
Dr Nurhidayat Sardini mengelaborasi konsep interseksionalitas dalam konteks Jawa Tengah.
Ia menjelaskan, identitas politik dan sosial, seperti gender, agama, dan status sosial, seringkali beririsan dan tumpang tindih, bahkan memunculkan kekhawatiran dalam kontestasi pemilu.
“Pendekatan teknokratis memberi ruang untuk mengelola kompleksitas itu secara rasional dan terstruktur,” ujarnya.
Dekan FISIP Undip, Dr Teguh Yuwono, dalam sambutannya menegaskan komitmen kampus mendukung karya mahasiswa yang berdampak akademik maupun praktis.
Menurutnya, buku tersebut tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan politik, tetapi juga relevan sebagai referensi bagi praktisi yang akan bertarung dalam pemilu.
Dr Phil Wahid Abdulrahman menambahkan, pendekatan politik teknokratis terbukti mampu mengatasi hambatan interseksionalitas, termasuk yang dihadapi kandidat perempuan.
Namun, ia menekankan pentingnya modifikasi strategi sesuai desain dan sistem pemilu yang berlaku.
“Bedah buku itu sekaligus menegaskan bahwa kontestasi elektoral modern kian bergerak ke arah politik berbasis data, manajemen, dan strategi terukur, tanpa mengabaikan dimensi budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ungkap Wahid. (eko/redaksi)

21 hours ago
6

















































