Pemalang, infojateng.id – Produktivitas padi di Jawa Tengah pada periode Januari–Agustus 2026 mencapai 6,69 juta ton atau sekitar 63% dari target 10,5 juta ton.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengaku optimistis target tersebut dapat dicapai pada akhir tahun ini. Hal itu menyusul musim panen raya kedua yang hampir mencapai puncak dan masih akan ada panen ketiga di beberapa daerah.
“Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Hari ini kita panen padi di Pemalang, di kabupaten/kita lain juga melakukan panen. Apabila ini bisa dipertahankan maka akan bisa terpenuhi,” kata Luthfi disela acara panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, Pemalang merupakan lima besar penyangga produksi padi di Jawa Tengah. Guna mendorong produktivitas petani, Pemprov Jateng kembali menggelontorkan bantuan alat pertanian berupa traktor, combine harvester, pompa air, dan benih kepada para petani. Bantuan itu tidak hanya di Pemalang tetapi juga di daerah lainnya di Jawa Tengah.
“Alat-alat pertanian dan pompa kita geser ke sini. Kita juga ada dua mekanisme penanganan lahan pertanian, yaitu sawah tadah hujan dengan perpompaan dan perpipaan, kemudian sawah irigasi dengan optimalisasi jaringan irigasi tersier,” jelasnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, beberapa daerah memang memiliki kearifan lokal terkait pertanian. Misalnya di wilayah Pantura seperti di Kedungbanjar tersebut dua kali musim panen padi dengan diselingi komoditas pertanian lainnya. Tapi ada juga daerah dengan tiga kali musim tanam dan panen.
“Tapi semua petani itu sebenarnya tergantung pada air, kalau ada air mereka pasti akan menanam padi. Tapi dengan metode PMAS atau pertanian modern agriculture advance system itu dua kali musim tanam cukup karena produksinya tinggi,” katanya.
Untuk mendorong produktivitas padi, Pemprov Jateng juga memiliki program Pilar Jateng. Program ini menyediakan sistem pemetaan infrastruktur lahan, irigasi, dan alat mesin pertanian beserta kondisinya. Semua terlaporkan, sehingga perencanaan pembangunan pertanian bisa presisi atau tepat sasaran.
“Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani,” katanya.
Bantuan alat dan mesin pertanian kepada petani di Pemalang diakui sangat membantu petani. Sebab, modernisasi pertanian di Kabupaten Pemalang masih belum banyak.
Bantuan combine harvester juga dapat menekan biaya produksi karena selama ini petani sering mendatangkan mesin dari daerah lain yang memakan biaya cukup besar.
“Terima kasih atas bantuan combine harvester ini. Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu kita kadang telat panen karena menunggu mesin dari daerah lain, itu juga mempengaruhi harga gabah,” ujar Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Petarukan, yang mendapatkan bantuan combine harvester. (eko/redaksi)

10 hours ago
2

















































