PATI, Infojateng.id – Program beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu di Kabupaten Pati yang selama ini menjadi harapan ratusan keluarga prasejahtera justru menyisakan tanda tanya besar. Sudah tiga bulan terakhir bantuan pendidikan tersebut tidak kunjung cair, sementara para penerima manfaat terus dibayangi kesulitan ekonomi.
Ironisnya, keterlambatan pencairan itu dikabarkan telah memakan korban. Seorang mahasiswa berprestasi dari keluarga petani terpaksa menghentikan kuliahnya karena tidak lagi mampu menanggung biaya pendidikan.
Sutomo, salah satu orang tua penerima beasiswa, mengungkapkan bahwa bantuan yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Jateng, sejumlah perusahaan, serta Baznas Pati itu terakhir diterima pada Maret 2026. Sejak April hingga Juni, tidak ada pencairan yang masuk ke rekening mahasiswa. “Untuk saat ini mulai April, Mei sampai Juni belum ada pencairan sama sekali,” ujarnya kepada infojateng.id
Menurutnya, bantuan tersebut bukan sekadar tambahan uang saku, melainkan menjadi penopang utama keberlangsungan pendidikan bagi banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
“Ini sangat membantu sekali. Banyak kebutuhan kuliah yang harus dipenuhi, mulai praktik, tugas, hingga biaya lain di luar UKT. Kondisi ekonomi keluarga juga sedang tidak mudah,” katanya.
Seperti diketahui, program beasiswa itu sebelumnya menyasar 194 mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Namun dalam perjalanannya jumlah penerima berkurang menjadi 183 mahasiswa. Besaran bantuan bervariasi, mulai Rp1 juta hingga Rp 2,5 juta per bulan, tergantung kategori ekonomi dan program studi.
Yang paling memprihatinkan, kata Sutomo, salah satu penerima manfaat yang dikenal memiliki kemampuan akademik baik kini dikabarkan tidak lagi melanjutkan kuliah. “Ada satu anak yang kecerdasannya sangat bagus. Tapi karena orang tuanya hanya petani dan tidak mampu membiayai kuliah tanpa bantuan itu, sekarang fix keluar kuliah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai nasib ratusan mahasiswa lain yang selama ini bergantung pada program bantuan pendidikan tersebut. Pasalnya hingga kini belum ada kepastian kapan dana akan benar-benar diterima oleh para penerima manfaat.
Sejumlah orang tua mengaku telah berupaya mencari kejelasan dengan mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati. Namun jawaban yang diterima disebut hanya sebatas diminta bersabar. “Ada yang sudah menanyakan langsung ke dinas. Jawabannya cuma diminta menunggu, sabar, sabar, dan sabar,” kata Sutomo.
Merasa tidak mendapatkan kepastian, para orang tua kini berencana mengajukan audiensi dengan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati guna meminta penjelasan resmi terkait mandeknya pencairan beasiswa tersebut.
“Kami ingin audiensi dengan pemerintah kabupaten supaya ada kejelasan. Anak-anak ini menyangkut masa depan pendidikan mereka,” tegasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyatakan bahwa proses pencairan beasiswa masih berjalan dan meminta media mengonfirmasi lebih lanjut kepada Dinas Pendidikan. “Sudah berjalan. Coba tanya di dinas pendidikan,” jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati Sunarji menyebut proses pencairan masih berada di tahap perusahaan pemberi bantuan. “Sudah diproses. Baru masuk ke perusahaan,” ujarnya singkat.
Pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru. Jika proses disebut sudah berjalan, mengapa selama tiga bulan para mahasiswa belum menerima hak mereka? Dan jika benar bantuan masih berada di tahap perusahaan, sejauh mana pengawasan pemerintah terhadap keberlangsungan program yang menyangkut masa depan ratusan mahasiswa kurang mampu di Kabupaten Pati?

17 hours ago
4

















































