Jakarta, infojateng.id – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) terus memantau perkembangan pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini masih dinyatakan hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Peristiwa tersebut menjadi duka mendalam sekaligus ujian bagi insan pers yang menjalankan tugas jurnalistik di wilayah berisiko tinggi.
IJTI menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian, sekaligus menegaskan bahwa keselamatan jurnalis harus menjadi prioritas utama dalam setiap peliputan.
Hingga kini, upaya pencarian gabungan masih dilakukan oleh berbagai unsur negara dan masyarakat. Tim yang terlibat antara lain Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, nelayan setempat, serta unsur terkait lainnya.
Rombongan sebelumnya bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau menggunakan speedboat bermesin ganda atau double engine. Seluruh penumpang disebut telah dilengkapi perlengkapan keselamatan berupa jaket pelampung.
Speedboat tersebut dikemudikan Warta, dengan Surakman sebagai awak kapal dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Kapal itu membawa lima jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistira Pranoto dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal, jurnalis freelance.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Herik Kurniawan menyampaikan sejumlah sikap.
Pertama, IJTI memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tim SAR Gabungan yang terus melakukan pencarian. IJTI berharap upaya penyisiran di perairan sekitar Anak Krakatau segera membuahkan hasil dan seluruh jurnalis serta awak kapal dapat ditemukan.
Kedua, IJTI menyampaikan dukungan moral dan doa kepada keluarga para jurnalis dan awak kapal yang masih menunggu kabar. IJTI berharap keluarga diberikan ketabahan dan kekuatan selama proses pencarian berlangsung.
Ketiga, IJTI menegaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas mutlak dalam pelaksanaan tugas jurnalistik, khususnya ketika jurnalis bekerja di wilayah dengan tingkat risiko tinggi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kondisi alam, termasuk aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, memiliki dinamika yang tidak selalu dapat diprediksi maupun dikendalikan manusia.
“Tidak ada berita yang seharga dengan nyawa manusia,” tegas Herik.
Keempat, IJTI mendorong evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) peliputan di medan berisiko. Insiden hilang kontak tersebut dinilai menjadi peringatan bagi seluruh ekosistem pers di Indonesia untuk memperkuat mitigasi risiko, prosedur keselamatan, serta pembekalan safety awareness sebelum jurnalis diterjunkan ke wilayah bencana atau medan ekstrem.
Kelima, IJTI menegaskan komitmennya terhadap praktik jurnalisme yang berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan. Namun, di atas seluruh kepentingan pemberitaan, keselamatan jurnalis tetap menjadi hal yang utama.
Herik menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap peliputan, terutama di wilayah dengan risiko tinggi.
Menurutnya, jurnalisme tetap harus berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan, tetapi tidak boleh mengorbankan keselamatan jurnalis.
IJTI berharap proses pencarian terus dilakukan secara maksimal hingga seluruh jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak dapat ditemukan.
“Jurnalis yang pulang dan berkumpul bersama keluarganya dengan selamat adalah tujuan tertinggi. Sekali lagi, tidak ada satu pun berita yang seharga dengan nyawa manusia,” tegasnya. (eko/redaksi)

1 day ago
5
















































