Bukan Sekadar Seremoni, Begini Cara Wabup Temanggung Ajak Warga Hadapi Krisis Iklim

12 hours ago 8

Temanggung, infojateng.id – Peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia tingkat Kabupaten Temanggung tahun 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kondisi bumi.

Wakil Bupati Temanggung, Nadia Muna, menegaskan bahwa agenda tahunan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial belaka, melainkan harus dibarengi dengan aksi nyata yang berdampak langsung.

Hal tersebut disampaikannya saat memimpin Apel Puncak Peringatan HLH Sedunia Kabupaten Temanggung yang digelar di halaman Kantor PMI setempat, Sabtu (6/6/2026).

Usai apel, Nadia bersama peserta kegiatan melakukan aksi bersih-bersih sampah di kawasan Pendopo Pengayoman dan Alun-alun Temanggung, serta penanaman pohon.

Menurut Nadia, bahwa dampak krisis iklim saat ini kian nyata dan mengancam kehidupan sehari-hari, mulai dari cuaca ekstrem, gangguan sumber daya air, penurunan kualitas lingkungan, hingga meluasnya lahan kritis

“Ini menjadi ancaman bagi kita, bagi keberlanjutan sumber daya alam, juga ancaman bagi generasi penerus kita. Oleh karena itu, mohon untuk melakukan aksi nyata yang dimulai dari lingkungan terdekat sekitar kita,” ujar Nadia.

Dijelaskan, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Now for Climate, yang di tingkat nasional diusung melalui tema Saatnya Bekerja untuk Iklim, telah direspons Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui berbagai kegiatan konkret, seperti aksi bersih lingkungan dan penanaman pohon.

Meski demikian, Nadia menekankan bahwa esensi utama dari peringatan ini adalah membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat untuk menjaga dan melindungi alam secara konsisten dari berbagai potensi kerusakan.

Ia menilai, upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, nilai-nilai tersebut sejatinya telah diwariskan oleh para leluhur melalui berbagai tradisi yang mengajarkan manusia hidup selaras dengan alam.

“Aksi nyata bisa dimulai dengan langkah sederhana memilah sampah dari rumah, gunakan sampah yang bisa didaur ulang, kurangi sampah plastik, menjaga kebersihan lingkungan publik, mengurangi emisi,” jelasnya.

Nadia juga memuji masyarakat pedesaan di Temanggung yang dinilai sudah memiliki kesadaran ekologis sejak lama melalui tradisi turun-temurun.

“Masyarakat di pedesaan pun sebenarnya sudah memiliki kesadaran kolektif sejak lama, dengan adanya tradisi budaya bersih sungai Nyadran Kali, di mana hal itu sangat baik, jika terus diuri-uri atau dilestarikan,” tambahnya.

Menurut Nadia, tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” merupakan ajakan untuk mengubah paradigma masyarakat. Upaya pelestarian lingkungan tidak cukup hanya dengan membangun pengetahuan dan kesadaran, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan bersama.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan bahwa Pemkab Temanggung menyatakan komitmennya untuk terus mendukung Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Gerakan ini diproyeksikan menjadi pilar utama dalam menciptakan lingkungan daerah yang bersih, lestari, dan berkelanjutan.

“Jadi kegiatan itu bukan sekadar seremoni atau kegiatan setahun sekali saja, namun mewujudkan adanya kepedulian terhadap lingkungan kita, tanggung jawab kita, juga rasa cinta, rasa memiliki terhadap lingkungan. Setiap sampah yang kita pilah, pohon yang kita tanam, setiap langkah kecil yang kita lakukan itu, insyaallah akan memberikan kontribusi bagi kebersihan lingkungan juga keasrian,” pungkasnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |