Dari Wewe Gombel hingga Noni Belanda, Jejak Niskala Hidupkan Urband Legend Semarang

18 hours ago 8

Semarang, Infojateng.id — Suasana Car Free Day (CFD) di Simpang Lima Semarang, Minggu (7/6/2026), tampak berbeda dari biasanya. Di tengah ramainya warga yang berolahraga dan menikmati akhir pekan, sebuah booth bernama Jejak Niskala mencuri perhatian dengan konsep unik bernuansa mistis.

Lentera-lentera temaram, dekorasi bernuansa gelap, serta alunan gamelan yang berpadu dengan efek suara alam menghadirkan atmosfer yang seolah membawa pengunjung memasuki lorong waktu menuju kisah-kisah urban legend yang hidup di tengah masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pukul 06.00 hingga 09.00 WIB itu merupakan kampanye budaya bertema horor yang bertujuan mengenalkan kembali berbagai legenda urban Indonesia, khususnya yang berkembang di Kota Semarang. Lebih dari sekadar hiburan, Jejak Niskala juga menjadi media untuk menumbuhkan minat baca dan memperkuat literasi budaya di kalangan masyarakat.

Di dalam booth, pengunjung dapat menikmati beragam cerita urban legend yang disajikan dalam bentuk buku dan pamflet yang dapat dibaca secara gratis. Mulai dari kisah Wewe Gombel, Noni Belanda, Mbah Kudu, hingga berbagai cerita misteri yang berkembang di lorong-lorong tua Kota Semarang.

Cerita-cerita tersebut dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Kami sengaja mengemas cerita-cerita ini dengan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami agar masyarakat tertarik untuk membaca serta mengenal lebih dekat budaya lokal yang ada di sekitar mereka,” ujar panitia kegiatan, Diana Kartika.

Tak hanya membaca, pengunjung juga diajak berinteraksi langsung dengan karakter-karakter urban legend yang diperankan oleh peserta berkostum. Sosok Wewe Gombel dan Noni Belanda tampil dengan kostum yang menarik perhatian dan menjadi magnet bagi para pengunjung.

Menariknya, anak-anak yang awalnya tampak penasaran justru terlihat antusias mengabadikan momen dengan berfoto bersama kedua tokoh ikonik tersebut. Suasana yang semula terkesan menyeramkan berubah menjadi ruang edukasi yang menyenangkan dan penuh interaksi.

Koordinator kegiatan, Nasywa Farida, menegaskan bahwa Jejak Niskala tidak dibuat untuk menakut-nakuti masyarakat. Sebaliknya, kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat memahami urban legend sebagai bagian dari warisan budaya yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun.

“Urban legend merupakan bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Kita bisa menghargai keberadaannya sebagai warisan budaya tanpa harus mempercayainya secara berlebihan. Ada ruang untuk logika, ada pula ruang untuk menghargai nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur,” jelasnya.

Menurut Nasywa, pendekatan yang kreatif dan menyenangkan menjadi cara efektif untuk mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Melalui kegiatan seperti Jejak Niskala, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal cerita-cerita urban legend, tetapi juga terdorong untuk membaca, berdiskusi, dan menggali lebih jauh kekayaan budaya yang dimiliki Kota Semarang.

“Literasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang formal. Melalui cerita, legenda, dan pengalaman yang menarik, masyarakat bisa belajar sekaligus mencintai budaya daerahnya sendiri,” pungkasnya. (one/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |