Batang Antisipasi Serangan Hama Tikus di Lima Kecamatan

18 hours ago 4

Batang, infojateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi serangan hama tikus yang mulai bergerak di sejumlah sentra pertanian saat musim kemarau.

Hingga pertengahan Agustus 2026, kondisi tanaman padi di wilayah tersebut masih terkendali dan belum ada laporan tanaman mengalami puso atau gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pangan, Pertanian dan Perkebunan (Dispaperta) Kabupaten Batang Diana Anggraeni mengatakan, pergerakan hama tikus mulai terdeteksi sejak Juli 2026 seiring memasuki musim kemarau.

“Kalau untuk laporan dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) per 15 Agustus, yang terkendali ada di Kandeman seluas 2 hektare. Selain Kandeman, langkah antisipasi dan pengendalian juga gencar dilakukan di Kecamatan Pecalungan dan Tulis,” kata Diana saat ditemui di Kantor Dispaperta Batang, Rabu (26/8/2026).

Menurut dia, pengendalian dilakukan dengan melibatkan petani, kelompok tani (poktan), Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan POPT. Penggunaan pestisida menjadi salah satu langkah yang diterapkan pada lahan yang terindikasi terdampak.

Dispaperta juga menetapkan lima kecamatan dalam status waspada terhadap pergerakan hama tikus, yakni Wonotunggal, Pecalungan, Subah, Kandeman, dan Batang.

Diana menyebut kondisi serangan tikus tahun ini relatif lebih ringan dibandingkan musim sebelumnya. Tahun lalu, serangan tikus di Kecamatan Wonotunggal bahkan menyebabkan puluhan hektare lahan mengalami puso.

Petani kala itu terpaksa membersihkan tanaman lebih awal untuk mempersiapkan penanaman kembali.

Diana menjelaskan, pergerakan tikus cenderung berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain sehingga pengendalian perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Menariknya, tikus memiliki tabiat unik yang berpindah-pindah. Ini sekarang pindah ke sebelahnya, Kedungsegog. Nah itu, tikus itu kayak gitu,” ujarnya.

Untuk memperkuat pengendalian, Dispaperta Batang tengah mengupayakan bantuan pestisida dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jawa Tengah.

Namun, bantuan tersebut diberikan dalam bentuk dukungan untuk kegiatan pengendalian di lapangan. Artinya, distribusi pestisida harus disertai dengan jadwal dan kegiatan pengendalian yang jelas.

“Jadi mereka sifatnya semacam untuk gerakan pengendalian. Jadi harus ada jadwal pengendalian, nanti mereka dropping berarti itu langsung tersalur,” jelasnya.

Selain mengupayakan bantuan dari BPTPH, Dispaperta juga menyiapkan alokasi pestisida secara mandiri melalui anggaran perubahan.

Diana menekankan pengamatan rutin menjadi langkah penting dalam mencegah serangan hama semakin meluas. Menurutnya, petani perlu melakukan pemantauan tanaman secara berkala agar serangan hama dapat diketahui sedini mungkin.

“Yang paling penting itu pengamatan. Tanpa pemantauan harian, petani akan sulit mendeteksi secara dini apakah tanamannya digerogoti tikus, wereng, atau burung,” katanya.

Jika ditemukan serangan dalam skala cukup luas, petani disarankan melakukan pengendalian secara bersama-sama melalui koordinasi di tingkat desa.

“Ketika sudah tahu bahwa ada serangan hama, berarti harus melakukan tindakan pengendalian. Kalau sifatnya agak banyak, biasanya koordinasi di tingkat desa untuk gerakan bareng-bareng, itu gropyokan,” ujarnya.

Selain pengendalian langsung, Dispaperta juga terus mendorong petani menerapkan pola tanam serempak. Cara tersebut dinilai dapat membantu memutus rantai perkembangan hama sekaligus memudahkan pengendalian.

“Sudah puluhan, ratusan kali dalam satu tahun kita menyosialisasikan, baik lewat petugas dinas maupun lewat penyuluh, untuk usahakan tanam serempak. Dengan waktu tanam yang seragam, fase pertumbuhan tanaman akan senada, sehingga penanganan hama menjadi jauh lebih mudah dan terukur,” pungkasnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |